Kuala Kurun, pilarkalimantan.co.id – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah menggelar Roadshow Festival Literasi Harati Tahun 2026 di Kabupaten Gunung Mas dan Murung Raya. Kegiatan ini menjadi sarana penguatan budaya baca sekaligus edukasi ekonomi dan keuangan bagi generasi muda.
Mengangkat tema _“Connected by Literacy: Building Future-Ready Communities”_ dalam rangka Hari Buku Sedunia, festival dilaksanakan di Kuala Kurun pada 14 April 2026 dan di Puruk Cahu pada 16 April 2026. Pesertanya terdiri dari pelajar SMA/SMK/MA, guru, komunitas literasi, serta unsur pemerintah daerah.
Roadshow ini merupakan bagian dari rangkaian yang menjangkau empat kabupaten di Kalteng: Pulang Pisau, Gunung Mas, Murung Raya, dan Barito Selatan. Setelah Pulang Pisau, Gunung Mas menjadi titik kedua pelaksanaan.
Membuka kegiatan di Kuala Kurun, Sekretaris Daerah Kabupaten Gunung Mas Richard, ST, M.AP menegaskan bahwa literasi adalah fondasi utama pembangunan SDM.
“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi kemampuan untuk berpikir kritis, memahami informasi, dan mengambil keputusan yang bijak dalam kehidupan sehari-hari. Festival Literasi Harati ini menjadi langkah strategis untuk menumbuhkan budaya literasi di kalangan generasi muda Gunung Mas,” kata Richard.
Ia mengapresiasi kolaborasi Bank Indonesia dengan pemerintah daerah dalam menghadirkan pendekatan literasi yang inklusif dan berkelanjutan. Menurutnya, literasi dasar harus dilengkapi literasi keuangan agar pelajar mampu mengelola uang dengan bijak.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunung Mas, Maria Efianti, M.AP, menyebut festival ini memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat belajar dan ruang kreatif.
“Kami berterima kasih kepada Bank Indonesia atas kegiatan yang luar biasa ini. Kami berharap kolaborasi terus berlanjut, khususnya terkait cara perlakuan uang, perlindungan konsumen, dan kebanksentralan. Semoga dari lomba-lomba BI, pelajar Kuala Kurun bisa berpartisipasi dan meraih prestasi membanggakan,” ujarnya.
Di Gunung Mas, rangkaian acara diisi edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah serta pengenalan program PeKA (Peduli, Kenali, Adukan). Talkshow literasi menghadirkan narasumber dari Bank Indonesia, pemda, dan komunitas Hifdzi Library. Founder Hifdzi Library, Devi Puji Lestari, membagikan pengalaman membangun budaya membaca dan menulis di kalangan anak muda.
Peserta juga dibekali materi menulis efektif, pengenalan inflasi, dan perilaku konsumsi bijak. Lewat simulasi dan kuis interaktif, pelajar diajak memahami dampak inflasi terhadap harga, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta pentingnya menabung. Antusiasme tinggi terlihat sepanjang acara.
Roadshow berlanjut ke Murung Raya dengan pustaka keliling dan edukasi di MAN 1 Murung Raya. Talkshow dibuka Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, dr. Suria Siri, serta dihadiri Pembina Forum Literasi dan Seni Sastra Murung Raya, Dina Maulidah, http://S.HI.
Narasumber dari BI, pemda, dan Perpustakaan Desa Bahitom memaparkan praktik inklusi sosial berbasis perpustakaan desa. Perpustakaan didorong menjadi pusat aktivitas produktif, pelatihan keterampilan, dan edukasi keuangan masyarakat, tidak hanya tempat pinjam buku.
Lewat pendekatan komunikatif, pelajar diajak memahami isu inflasi, stabilitas harga, dan pengelolaan keuangan sederhana. Peran Bank Indonesia dalam menjaga nilai rupiah juga dikenalkan kepada siswa dan guru.
Sebagai tindak lanjut, BI Kalteng mengajak pelajar mengikuti lomba menulis cerpen bertema _Bijak Berbelanja_. Akan digelar pula pemilihan Duta Guru, Duta Milenial, serta cerdas cermat tingkat SMA se-Kalteng. Informasi lomba disampaikan ke sekolah pada akhir April 2026.
Kompetisi ini diharapkan menjadi ruang aktualisasi pelajar dan guru dalam mengekspresikan literasi dan pemahaman ekonomi secara kreatif.
Festival ini menegaskan komitmen BI dan pemerintah daerah membangun ekosistem literasi yang kuat. Literasi diposisikan bukan hanya kemampuan dasar, tetapi kunci mencetak generasi kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan global.
Lewat Festival Literasi Harati 2026, Gunung Mas dan Murung Raya menunjukkan bahwa pembangunan daerah bisa dimulai dari penguatan literasi generasi muda sebagai fondasi masa depan. ( red )
